Home / Lipsus / Ternyata Begini Cara Mat Bakir Perlakukan Istrinya Yang Menderita Lumpuh
Ternyata Begini Cara Mat Bakir Perlakukan Istrinya Yang Menderita Lumpuh

Ternyata Begini Cara Mat Bakir Perlakukan Istrinya Yang Menderita Lumpuh

SUARASULTRA.COM, Routa – Hidup di bawah garis kemiskinan membuat pasangan suami istri (Pasutri ) Mat Bakir (40) dan Nur Ija (37 ) warga kelurahan Routa, Kecamatan Routa Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara harus menghuni gubuk tua ( hunian tidak layak ) sebagai tempat berlindung dari panasnya terik matahari dan siraman air hujan.

Pasutri ini bakal menghabiskan masa hidup mereka di sebuah gubuk tua yang hanya cukup untuk mereka berdua. Gubuk pasutri ini hanya beratapkan daun rumbia itupun kondisinya sudah mulai bocor, ketika hujan turun air pun menetes ke dalam gubuk itu.

 

Kondisi gubuk tua Pasutri, Mat Bakir dan Nur Ija

Kini kehidupan keluarga Mat Bakir semakin memperihatinkan, sejak istrinya menderita penyakit lumpuh. Sejak itu pula lelaki paruh baya yang bekerja sebagai kuli bangunan itu harus membagi waktu antara mencari kerja dan urus istri tercinta.

Tanpa sanak keluarga, lelaki paruh baya ini harus berjuang sendiri untuk menghidupi keluarganya ( sang istri ). Kehidupan keluarga Mat Bakir semakin sulit, jangankan untuk bawa sang istri berobat ke rumah sakit, buat makan saja sehari – hari dirinya harus banting tulang.

Dalam kondisi tersebut, pasutri ini terus mendapat ujian dari sang pencipta. Pasalnya belum lagi sembuh penyakit lumpuhnya, kini Nur Ija juga diserang penyakit kulit. Hal ini tentu menambah lagi beban berfikir sang suami ( Mat Bakir – red ).

 

Sebelum berangkat mencari nafkah untuk sekedar bertahan hidup, Mat Bakir terlebih dahulu mengurus dan merawat istrinya, mulai dari memandikan, menyuapi makan serta membersihkan ketika buang hajat.

” Saya harus urus istri dulu sebelum berangkat cari kerja.Itupun kalau ada pekerjaan bangunan yang membutuhkan kuli,” kata Mat Bakir saat ditemui baru- baru ini.

Menurut Mat Bakir, sejak istrinya mengalami lumpuh dari tiga tahun lalu, dirinya hanya bisa mengelus dada melihat kondisi istri tercinta. Mau bagaimana lagi kata dia, mau berobat medis,tidak ada dokter yang bertugas di puskesmas Routa.

Saat ini Mat Bakir hanya bisa pasrah menerima takdir hidupnya bersama istri tercinta sambil menunggu uluran tangan dari pihak pemerintah untuk pengobatan istrinya.

“Semoga saja pemerintah mau membantu biaya pengobatan istri saya sampai sembuh,” kata lelaki paruh baya ini penuh harap.

 

Laporan : Redaksi

 

 

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top